Welcome To My Blog

Minggu, 01 Mei 2011

pembahasan soal no.2 filsafat ilmu

SOAL TUGAS MANDIRI NO. 2 : KEGIATAN FILSAFAT MERUPAKAN KEGIATAN PEMIKIRAN DAN PERENUNGAN. URAIKAN PERNYATAAN TERSEBUT DAN BERIKAN CONTOH SESUAI DENGAN BIDANG ILMU SAUDARA !
PEMBAHASAN :
APLIKASI KEGIATAN PEMIKIRAN DAN PERENUNGAN DALAM FILSAFAT SEBAGAI FASILITATOR MEMAHAMI HAKIKAT ILMU KIMIA
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 PEMIKIRAN DAN PERENUNGAN DALAM FILSAFAT
Filsafat berawal dari adanya: kesadaran (conciousness), perasaan (feeling), kemauan (desires), rasa ingin-tahu (curiosity) manusia tentang dunia, ada rasa heran, ragu, khawatir, kagum dan takjub melihat peristiwa atau keadaan di alam semesta ini; ada rasa wonder or doubt upon his own existence dan ada awareness of solving his or her own problems, dan seterusnya. Kegiatan perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Dari ini, filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Ini berarti tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai suatu pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematis.
Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan (ilmu kimia) itu sendiri. Filsafat dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan merenung untuk mendapatkan sesuatu yang hakiki atau mencari suatu hakikat. Pemikiran dalam filsafat adalah dimulai dengan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan satu dengan lainnya, menanyakan,”mengapa”, mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban dari pandangan pertama. Kefilsafatan ialah merenung. Tetapi merenung bukan melamun juga bukan berpikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan.
1.1.2 HAKIKAT ILMU KIMIA
Life Is Chemistry, itulah ungkapan yang mengisyaratkan betapa eratnya hubungan kehidupan dengan kimia, Semua zat penyusun tubuh adalah zat-zat kimia, tubuh manusia mengalami reaksi kimia misalnya ketika belajar atau berfikir, reaksi kimia sedang berlangsung dalam sel-sel otak bahkan ketika tidur sehingga bisa kita katakan kimia tak sekedar persamaan reaksi. Setiap hari manusia senantiasa bergaul dengan benda-benda yang bersifat kimia dengan kata lain tiada hari tanpa kimia. Sabun, pasta gigi, pakaian, kendaraan, kertas, dan tinta merupakan contoh kecil dari benda kimia yang sering digunakan. Namun manusia sering mengaitkan istilah kimia dengan segala sesuatu yang berbahaya, sehingga mereka sering melupakan jasa, manfaat, dan kebaikan produk-produk kimia yang dinikmati sehari-hari. Penggunaan produk kimia tanpa memahami ilmunya akan membawa bencana bagi kemanusiaan. Kemajuan IPTEK yang tidak disertai dengan pemahaman ilmu kimia akan menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, dengan ilmu kimia kita mampu megontrol tingkah laku materi dan mengarahkannya kepada hal-hal yang tidak mengancam kelestarian alam. Kimia bukan sekedar rumus atau persamaan reaksi yang harus dihafal untuk kemudian dilupakan setelah lulus, melainkan ilmu yang mempelajari keindahan dan keteraturan hukum-hukum Ilahi di alam semesta. Semoga pemahaman kita terhadap ilmu kimia dapat meningkatkan kataqwaan kita kepada Allah SWT.
Karakteristik aspek kajian ilmu kimia mempunyai kesamaan dengan kajian filsafat yaitu aspek ontologis (objek studi ilmu kimia), aspek epistimologis (bagaimana cara memperolehnya), dan aspek aksioiologi (kegunaannya). Penulis di sini akan mencoba menguraikan aplikasi kegiatan pemikiran dan perenungan dalam filsafat sebagai fasilitator memahami hakikat ilmu kimia untuk itu dalam tulisan ini, akan diuraikan beberapa hal yang tercermin dalam rumusan masalah .
1.2 . Rumusan masalah
A. Bagaimana ciri-ciri pemikiran-pemikiran dalam ilmu filsafat serta implikasinya dalam ilmu kimia ?
B. Bagaimana sejarah perkembangan model atom sebagai bukti hasil kegiatan pemikiran dan perenungan dalam filsafat?
C. Bagaimana peranan filsafat dalam ilmu kimia (filsafat sebagai pisau bedah dalam perkembangan ilmu kimia)?

BAB II PEMBAHASAN
A. PEMIKIRAN DAN PERENUNGAN FILSAFAT SERTA IMPLIKASINYA DALAM ILMU KIMIA
Pemikiran Radikal
Berfikir radikal merupakan awal lahirnya kimia. Dahulu, ilmuan menganggap secara radikal atau bebas tentang definisi atom dan model atom. Pikiran radikal diperoleh dari kemauan dan kemampuan suatu otak untuk memikirkan sesuatu yang abstrak ataupun empriris. Cara berpikir radikal ini, mempunyai manfaat yang besar dalam perkembangan dunia kimia. Salah satunya mendorong ilmuwan untuk melakukan perenungan berpikir untuk menemukan kelanjutan dari pikiran radikalnya. Contohnya, banyak sekali muncul teori-teori tentang atom yang yang diawali oleh berfikir yang pokok atau fundamental dari fenomena dasar mengenai penyusun suatu materi.
Pemikiran holistic
pemikiran filsafat ini yang menginspirasikan paradigma pemahaman terhadap ilmu kimia. Sesuai pemikiran filsafat belajar itu harus menyeluruh/integral. Paradigma ini memunculkan suatu cara berfikir,jika saya ingin memahami kimia secara menyeluruh maka paradigma saya harus mempelajari ilmu kimia bukan materi kimia. Pemahaman ini muncul, karena jika saya hanya belajar materi kimia jadi saya hanya belajar dari bagian kecil kimia. Padahal ilmu kimia lebih luas dan menyeluruh. Ketika kita belajar ilmu kimia maka akan diperoleh pemahaman yang integral karena konsep, teori, hukum dalam kimia adalah satu dengan yang lainnya saling berikatan. Berbeda jika kita belajar materi kimia maka kita hanya mendapatkan bagian dari teori, konsep, maupun hukum kimia tertentu. Contohnya ; kita belajar hanya kimia organik saja, maka tentang energetika kimia tidak dicakupnya sehingga pada reaksinya kurang memahami energy yang menyertainya
Pemikiran Kritis dan Analisis
Fakta yang terdapat di alam mempunyai banyak hubungan dengan ilmu kimia. Dari ciri pemikiran filsafat yang telah saya pelajari mempunyai arti besar dalam menumbuhkan sikap kritis terhadap suatu fakta. Sikap kritis ini merangsang otak untuk mengajukan berbagi pertanyaan terhadap fenomena yang ada. Pertanyaan yang dimulai dari konsep 5W1H menciptakan sikap kritis yang berkelanjutan dalam ranah anilisis fenomena tersebut. Analisis atau pengolahan data dari fakta-fakta tersebut akan didapatkan suatu jawaban sebagi solusi atau produk berfikir. Sebagai contoh ; fakta kimia yaitu korosi. Dari sikap kritis muncul pertanyaan ; apa yang menyebabkan korosi, bagaimana proses korosi, mengapa terjadi korosi, di mana terjadi korosi, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab seelah dilakukan pengolahan informasi melalui suatu analisis yang panjang. Sebagian besar konsep, teori, dan hukum kimia merupakan produk dari proses kritikisasi dan analisis fakta yang ada sehingga diperoleh konsep, teori, dan hukum kimia secara ilmiah.
Pemikiran sistematis atau procedural

Dalam mencari jawaban suatu masalah filsafat mempunyai suatu sistem pengetahuan yang rasional secara runtut. Keruntutan sistem tersebut sering disebut metode ilmiah atau nalar ilmiah. Dalam ilmu kimia banyak teori maupun hukum kimia diperoleh dari proses nalar ilmiah atau metode ilmiah. Contoh ; batu baterai sebagai sumber listrik. Pembuatan batu baterai merupakan hasil dari proses pemikiran ilmia yang panjang. Berawal dari suatu hipotesis bahwa reaksi kimia merupakan interaksi antara muatan positif dan negatif sehingga terjadi arus listrik. Jawaban-jawaban atau analisis-analisis diperoleh dengan melakukan eksperimen mengenai sel yang bisa menghasilkan arus listrik. Dari jawaban-jawaban yang diperoleh membawa suatu kesimpulan bahwa listrik dapat dihasilkan oleh larutan elektrolit yaitu larutan yang bias menghantarkan arus listrik jika terjadi reaksi kimia. Sehingga muncul sel sumber arus listrik yang ditemukan misalnya, sel volta, penyepuhan emas, aki, batu baterai dan lain-lain. Semua itu diperoleh dari proses nalar ilmiah.

Pemikiran Logis atau Konsisten

Dalam pengambilan kesimpulan digunakan penalaran suatu kebenaran yang dapat diterima oleh logika sehingga dalam berlaku konsisiten karena universal. Teori atau hukum dalam ilmi kimia diasumsikan dalam suatu pemikiram atau alasan logis dalam bentuk formula matematis yang formal. Misalnya hukum tentang perubahan energi dalam ∆E =Q+W, diperoleh dari logika matematika yang dapat diterima secara konsisten atau ajek sebagai hukum yang baku tentang energi. Formula ini adalah abstraksi dari hubungan teori satu dengan teori lain

Pemikiran konseptual
Terkadang ilmu kimia berkembang dari aksioma-aksioma karena adanya konsep-konsep sebelumya. Fakta yang ada menjadi anomali terhadap pembuktian teori yang ditemukan. Tetapi ilmu kimia mengasumsikan bahwa teori dapat menjawab suatu fakta yang ada. Di sini menurut saya ada kontradiksi cara berfikir. Jika filsafat semuanya konseptual tetapi ilmu kimia konseptual yang dianomali oleh fakta. Menurut saya hal ini disebabkan karena dinamika objek ontologi ilmu kimia yang sifat dan karakteristiknya selalu dinamis. Misalnya, air mendidih secara teori pada suhu 100oC tetapi fakta menunjukan bahwa air mendidih pada suhu >100oC pada daerah pegunungan.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN MODEL ATOM SEBAGAI BUKTI HASIL KEGIATAN PEMIKIRAN DAN PERENUNGAN DALAM FILSAFAT







Berdasarkan pengalaman mengajar penulis sebagai guru kimia, model atom sangat membantu penulis dalam mendeskripsikan mengenai atom, karena dunia kimia berada pada dunia makroskopik ,dunia simbolik dan dunia mikroskopis yang dapat kita pahami melalui pemisalan atau pemodelan.
Salah satu konsep dalam ilmu kimia yang mengalami perubahan secara dinamis adalah mengenai konsep atom. Hal ini karena teori-teori dan model-model yang dikembangkan mempunyai kegunaan yang luas dalam menerangkan gejala-gejala kimia dan fiska. Selain itu penemuan-penemuan baru partikel materi memungkinkan luasnya penerapan penemuan tersebut.
Model atom Dalton
Gagasan konsep atom yang dikemukakan Dalton dipandang sebagai kelanjutan pandangan filosof atomik, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam landasan berpikirnya. Beberapa gagasan yang dituangkan Dalton dilandasi oleh fakta-fakta empiris berlandaskan eksperimen yang dilakukan oleh ilmuwan lain sedangkan pandangan filosof tentang atom seluruhnya berupa refleksi kritis terhadap fenomena alam. Revolusi pemikiran konsep atom, terjadi karena teori atom Dalton tidak dapat diverifikasi, banyak anomali yang berkenaan dengan hal itu, sehingga menimbulkan serangkaian krisis, terutama akibat penemuan-penemuan di bidang kelistrikan dan gejala radioktivitas.
Model atom Thomson
Penemuan gejala kelistrikan mengubah pandangan bahwa atom merupakan partikel bagian terkecil dari materi, karena telah dapat dibuktikan adanya partikel sub atom seperti proton, elektron dan netron. Beberapa studi yang intensif yang dilakukan membawa ke dalam suatu babak baru penyelidikan mengenai atom yang membawa pemahaman yang sangat berbeda dengan pandangan filosofi Dalton. Dari rangkaian penemuan gejala kelistrikan dan radioaktivitas, terdapat dua ilmuwan yang mengemukakan model atom, yaitu model atom Thomson dan model atom Rutherford. Kedua model ini tidak dapat diterima sebagai paradigma baru, karena secara internal konsepnya sendiri mengandung hal yang tidak logis dipandang dari aturan-aturan fisika yang berlaku serta tidak dapat menerangkan fenomena-fenomena yang diamati, seperti fenomena spektrum.
Model atom Rutherford
Paradigma baru dianggap terjadi ketika Bohr mengemukakan teori atom atau model atomnya sebagai perbaikan terhadap model atom Rutherford. Anggapan ini berdasarkan dari adanya perubahan paradigma dalam ilmu fisika yaitu dari paradigma Newtonian (fisika klasik) ke paradigma teori kuantum (fisika modern) yang dirintis oleh Max Plank pada tahun 1900. Namun apabila merujuk pada kenyataan, bahwa Bohr sebenarnya bekerja atas dasar teori planet elektronnya Rutherford yang banyak ditolak ilmuwan fisika masa itu (–bahkan ia bekerja sama dengan Rutherford untuk memperbaiki teorinya–), maka dianggap teori atom Bohr dianggap sebagai penyempurnaan terhadap teori atom Rutherford. Hal itu karena masalah yang dihadapi adalah bagaimana sebenarnya posisi elektron di dalam atom. Sedangkan adanya partikel sub-atom yang mendasari teori atom Rutherford sudah dapat diterima secara luas.
Dengan terjadinya revolusi dari fisika klasik ke fisika modern, yaitu berubahnya pandangan mekanika Newtonian dan teori gelombang Maxwell menjadi paradigma teori kuantum Max Planck, memberikan sumbangan pemikiran yang menghasilkan paradigma baru teori atom, yaitu teori atom Bohr. Teori ini mendapat perluasan pemikiran dari Sommerfield untuk menerangkan fakta-fakta yang tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh Bohr.
Keberatan terhadap model atom Bohr-Sommerfield lebih banyak dilakukan oleh ilmuwan fisika, bagi kebanyakan ilmuwan kimia model atom ini cukup handal untuk menerangkan gejala-gejala kimiawi, seperti sifat-sifat ikatan kimia, penggabungan atom-atom dan sistem periodik unsur. Yang menjadi keberatan, sehingga timbul baru teori atom mekanika kuantum (mekanika gelombang) adalah faham determinisme yang melandasi pemikiran model atom Bohr dan juga perluasannya oleh Sommerfield (Teori atom Bohr-Sommerfield).
Secara esensi bagaimana kedudukan elektron di dalam atom yang digambarkan dengan keempat bilangan kuantum dapat diterima, namun yang harus digaris bawahi untuk mendapatkan koreksi dari model itu adalah bahwa konsep orbit yang dikemukakan Bohr diganti menjadi orbital dengan pengertian yang sesuai dengan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.
Dengan demikian apabila ditinjau dari konsep atom sendiri yang sampai saat ini dianut, terutama oleh ilmuwan kimia, maka pemaparan teori atom berdasarkan mekanika kuantum bukan suatu revolusi, tetapi rangkaian penemuan yang sifatnya akumulatif dalam kajian sains yang normal. Hal ini mengingat paradigma teori Bohr dan perluasannya oleh Sommerfield hingga sekarang tetap dipergunakan. Jadi paradigma mekanika kuantum memberikan sumbangan terhadap penyempurnaan teori atom Bohr dan bukan merupakan penolakan, karena dalam hal ini digunakan prinsip korespondensi.
Yang dianggap sebagai paradigma baru alasannya lebih bersifat filosofis, karena berkaitan dengan perubahan faham dari determinisme menjadi indeterminisme dalam memandang dunia mikroskopik yang terletak di luar jangkauan indera kita. Secara keseluruhan hal ini memberi gambaran, bahwa ilmu pengetahuan alam , khususnya fisika tidak lagi dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang mengandung kebenaran yang mutlak dan dapat menetapkan suatu kejadian dengan pasti (eksak). Faham indeterministik ini pun diungkap pula dalam teori relativitasnya Einstein.
Penemuan-penemuan partikel dasar quark mengubah pandangan mengenai inti atom yang hanya terdiri dari partikel dasar proton dan neutron sehingga menghantarkan pada penggambaran struktur atom yang sangat kompleks dan sangat jauh dari konseptualisasi Daltonian. Manfaat yang diperoleh dari model quark adalah dapat menggambarkan bahwa struktur inti atom begitu rumit dan dinamis dimana proton dan neutron tidak begitu saja bertumpuk dalam inti atom – seperti jeruk dalam peti. Oleh karena itu model atom Murray-Zweig menjadi paradigma baru dalam menerangkan struktur atom, terutama dalam kaitannya dengan susunan inti atom. Namun bukan berarti paradigma sebelumnya tidak berlaku, karena untuk menerangkan bagaimana kedudukan elektron serta gerakan elektron sampai saat ini masih digunakan paradigma teori atom mekanika gelombang. Konsep atom dicetuskan oleh Leucippus dan Democritus (abad ke-6 SM): materi (segala sesuatu di alam) secara fisik disusun oleh sejumlah benda berukuran sangat kecil (atom). Atom merupakan partikel yang sangat kecil, padat dan tidak bisa dibagi, bergerak dalam ruang dan bersifat abadi. Menurut John Dalton (1766–1844) setiap unsur kimia dibentuk oleh partikel yang tak bisa diurai (atom).
Pergeseran paradigma terjadi ketika ternyata dibuktikan bahwa atom masih bisa dibagi dan memiliki elektron (J.J. Thomson,1856–1940) dan proton (E. Goldstein, 1886). Pengetahuan bahwa atom bisa dibagi membuat ilmuwan lalu mereka-reka struktur atom. Thomson, menganalogikan atom seperti roti tawar dengan kismisnya, dimana elektron dan partikel positif terdistribusi merata. Dari penelitian E. Rutherford (1871-1937) disimpulkan bahwa elektron mengorbit mengelilingi nukleus. Postulat ini diperbaiki oleh J. Chadwick (1891–1974): atom memiliki sebuah inti yang terdiri dari nuklei, dan elektron-elektron yang mengorbit mengelilinginya; dan lalu disempurnakan oleh Niels Bohr yang mempertimbangkan efek kuantisasi energi atom. Teori-teori atom dan strukturnya masih terus disempurnakan. Saat ini mulai terjadi anomali yang menggugat paradigma yang sudah ada. Murray Gell-Mann (1964) mengatakan, proton dan netron masih bisa dibagi menjadi quark.
Dari pemikiran konsep atom oleh para filosof Yunani sampai dengan model “quark” dapat penulis simpulkan , perkembangan model atom adalah sebagai berikut:
1. Sebelum permulaan abad 19, konsep atom dianggap sebagai ‘mitos’ , karena gagasan yang diajukan oleh para filosof Yunani hanya dilandasi pemikiran tentang fenomena alam. Perkembangannya menjadi ‘sains’ normal’ setelah Dalton mengkonseptualisasikan kembali berdasarkan kajian-kajian empirik. Periode ‘sains normal’ di bawah paradigma Dalton berlangsung hampir satu abad lamanya (ahir abad 19).
2. Akumulasi anomali yang menggugurkan paradigma Dalton antara lain gejala kelistrikan dan radoaktifitas.
3. Perubahan model atom Thompson, Rutherford, Bohr hingga model atom mekanika kuantum masih berada dalam satu paradigma yang meyakini bahwa atom memiliki sub partikel ; inti atom dan elektron. Perubahan model difokuskan pada penentuan susunan elektron dalam atom
4. Namun ditinjau dari landasan filosofisnya, perubahan Model Atom Bohr ke Model atom mekanika Kuantum dianggap sebagai perubahan pemikiran deterministik menjadi Uncertainity Principle
5. Penemuan partikel elementer quark , belum dapat dianggap suatu anomali , karena model quark tidak mengubah pemikiran namun melengkapinya,
6. Adanya perkembangan pemikiran konsep atom menunjukkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak dalam Ilmu pengetahuan alam, bahkan melalui konsep atom faham determinisme dapat dibantah dengan argumentasi mekanika kuantum. Kemunculan model quark tidak lagi dianggap sesuatu guncangan bagi kebenaran ilmiah, namun dianggap dapat melengkapi khazanah ilmu pengetahuan. Hal ini karena para ilmuwan kini mempunyai pandangan bahwa kebenaran sains bersifat tentatif dan relatif.
B. BAGAIMANA PERANAN FILSAFAT DALAM ILMU KIMIA (FILSAFAT SEBAGAI PISAU BEDAH DALAM PERKEMBANGAN ILMU KIMIA)
Akhir-akhir ini santer terdengar berita yang menyudutkan tentang “kimia” baik dalam ranah , ranah militer maupun issu pencemaran lingkungan.
1. DALAM RANAH PANGAN
Dalam ranah pangan munculnya bahan pangan yang beredar di tengah masyarakat yang mengandung bahan kimia berbahaya, seperti : tahu , bakso yang mengandung bahan formalin, pengawet. Krupuk yang kita konsumsi pun tak luput dari bahan racun kimia “boraks”. Bahkan, miuman es di kantin-kantin maupun yang dijual dipinggir jalan diindikasikan bahwa bahan pewarnanya tak lain bahan yang sama untuk pewarna kain. Mengatasnamakan kecantikan bahan kosmetik, alat kecantikanpun tak luput dari racun-racun berbahaya, mercuri, yang berakibat paling fatal yakni kematian. Pada acara “investigasi “yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV betapa rasa kemanusiaan kita tercabik melihat betapa mudahnya pedagang yang “nakal” menggunakan bahan pemutih campuran Seperti hydrogen peroksida (H2O2), tawas, boraks hanya untuk mengejar keuntungan semata sebagai contoh pada produk pengolahan ikan menjadi ikan asin, kulit sapi (kikil)untuk mendapatkan tampilan bersih, ayam tiren untuk istilah ayam yang mati kemaren (ayam mati yang diolah), dan pada proses pembuatan kue untuk jajanan pasar (pewarna sintetik, pemanis, pengawet yang dilarang penggunaannya).Badan Pengawas Obat dan Makanan, BPOM, begitu gencar menyidik dan menelusuri bahan-bahan yang sering dikonsumsi masyarkat kita dari pencemaran bahan-bahan kima berbahaya. Apa yang dilakukan badan ini merupakan tindakan preventif,pencegahan, terhadap kejadian yang tak diinginkan di tengah masyarakat. Menurut penulis, pemerintah harus segera lebih tegas menertibkan penjualan bahan-bahan kimia dan menindak tegas oknum yang telah menyalahgunakan peggunaan bahan-bahan kimia tersebut, kepada konsumen agar berhati-hati dalam memilih produk, untuk selalu membaca komposisi bahan yang terdapat dalam kemasan.
Melamin? Mungkin kata ini sering anda dengar di acara berita beberapa bulan yang lalu. Ya, beberapa bulan lalu memang diberitakan bahwa di China ada merk susu tertentu yang didalamnya ditambahkan melamin yang bertujuan agar seolah-olah kandungan proteinnya tinggi. Akan tetapi justru zat tersebut menjadikan bahaya bagi yang mengkonsumsinya, tak tanggung-tanggung puluhan ribu bayi menjadi korbannya. Banyak sekali yang menderita gagal ginjal dan bahkan meninggal dunia. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah melamin itu? Melamina adalah senyawa basa organik dengan rumus kimia C3H6N6 dan memiliki nama IUPAC 1,3,5-triazina-2,4,6-triamina. Ia hanya sedikit larut dalam air., kandungan nitrogennya sampai 66 persen, biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.
Plastik dari melamin, karena sifat tahan panasnya, digunakan luas untuk perkakas dapur. Jadi, melamin yang kini diributkan berbeda dengan melamin plastik perkakas. Melamin yang diributkan ini adalah bahan dasar plastik melamin.
Berdasarkan informasi di situs WHO, pencampuran melamin pada susu berawal dari tindakan pengoplosan susu dengan air. Akibat pengenceran ini, kandungan protein susu turun. Karena pabrik berbahan baku susu biasanya mengecek kandungan protein melalui penentuan kandungan nitrogen, penambahan melamin dimaksudkan untuk mengelabui pengecekan agar susu encer tadi dikategorikan normal kandungan proteinnya.
Sangat disesalkan memang, produsen yang berlaku curang yang sangat merugikan konsumen, apalagi menyangkut nyawa manusia. Sekali lagi penulis mengingatkan, sebagai konsumen kita juga harus berhati-hati dalam memilih produk yang akan kita beli.
2. RANAH MELITER ( PENGGUNAAN BOM ATOM )
Boleh jadi hal yang paling disesali Albert Einstein adalah penemuan atomnya, walau faktanya penemuan itu pulalah yang membuat namanya tergores dalam sejarah. Layaknya dua sisi mata uang logam yang berbeda, atom dapat memberi kemaslahatan pada umat manusia, namun dapat pula menjadi penghancur yang mengerikan.
Sejarah pula yang mencatat hancurnya dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki oleh senjata pemusnah massal bernama bom atom. Di tahun-tahun berikutnya, pengembangan dari senjata tersebut menimbulkan hantu yang lebih menakutkan, nuklir.
Tapi jangan salah, nuklir bukan saja berbahaya di saat perang, juga momok menakutkan di waktu damai. Alih-alih sumber energi, ternyata bahaya radiasi pun menghantui manusia dari waktu ke waktu. Suatu konsekuensi yang mesti ditelan, buah dari keinginan manusia untuk lebih berkuasa dibanding sesamanya.

Setidaknya, catatan kelam pernah dialami Ukraina, manakala terjadi kebakaran, ledakan, serta kebocoran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl. Tragedi Chernobyl, bukan cuma berimbas buruk pada manusia yang tinggal di wilayah Belarus, Rusia dan Ukraina saja, melainkan seluruh Eropa. Pada 26 April 1986, penduduk Kiev dikejutkan oleh sebuah ledakan besar. Ledakan ini memuntahkan potongan inti reaktor sampai 1500 meter ke langit dan menebarkan awan beracun ke 70 persen daratan eropa. Radioaktivitas total ledakan Chernobyl, menurut WHO, ditaksir 200 kali radiasi bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Kelompok pecinta lingkungan Greenpeace bahkan menaksir, 160 ribu kilometer persegi tanah terkontaminasi bahan radioaktif. Sementara Mantan Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros Ghali mengatakan, "Kecelakaan Chernobyl tidak dapat dianggap sebagai masalah beberapa abad saja, tapi juga masalah kekinian karena banyak program sosial, ekonomi, dan lingkungan yang harus didefinisikan kembali."

Yang pasti, fakta menunjukkan lima juta orang di sekitar Chernobyl terkena radiasi. Sekitar 650 ribu diantaranya adalah para buruh yang bertugas membersihkan muntahan ledakan Chernobyl. Dan sekitar 200 ribu dari 650 buruh tersebut, merupakan kelompok kunci beresiko tinggi terpapar radiasi. Mereka berada dalam zona penyingkiran, atau sekitar 30 kilometer dari pusat ledakan Chernobyl.

Sepuluh tahun kemudian tercatat, 60 ribu buruh pembersih yang kebanyakan berusia 30 tahunan, meninggal dunia. Sementara 30 persen laki-laki pekerja pembersih yang masih hidup menderita impotensi. Yang menjadi masalah, sebagian besar buruh ini ditolak dalam kehidupan sosialnya. Penyebabnya, mereka dicurigai akan menularkan radiasi dari reaktor PLTN kepada orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang memicu mereka meninggal akibat kecanduan alkohol, mati dalam kemiskinan, serta bunuh diri.

Dokter spesialis penyakit -yang berkaitan dengan tragedi Chernobyl- Natalya Preobrashenskaya mengatakan, selain pekerja pembersih muntahan radioaktif, jutaan anak-anak yang tetap hidup pasca ledakan merupakan kelompok berisiko tinggi terpapar radiasi. Preobrashenskaya bahkan menyatakan, jutaan anak-anak yang lahir di masa mendatang juga akan terkena cemaran radiasi Chernobyl, sesuai prilaku radioaktif yang dipakai sebagai bahan bakar PLTN, jutaan tahun!
Apa saja penyakit yang timbul setelah tragedi Chernobyl? Boutros Boutros Ghali menyebutkan, lebih dari 300 anak-anak terdiagnosis kanker gondok, kesuburan pria wanita menurun drastis, dan angka kematian naik.
Secara lebih terperinci, 60 persen anak-anak Ukraina atau sejuta orang lebih menderita kanker gondok, sepuluh persen lainnya yang masih duduk di bangku SD mengalami rusak mental, serta sebagian besar anak-anak Ukraina menderita penyakit tulang. Preobrashenskaya mengatakan, kekebalan tubuh anak-anak Ukraina pun menurun drastis sehingga disebut pula AIDS-Chernobyl.

Penelitian Preobrashenskaya senada dengan penelitian WHO. Badan Kesehatan Dunia itu menyatakan, setelah peristiwa Chernobyl terjadi peningkatan kasus kanker gondok anak, 100 kali dibanding prakecelakaan Chernobyl. Kenyataan lainnya, penduduk Kiev banyak yang terkena kanker paru-paru dan jantung. Dan banyak dokter memperkirakan, dalam waktu mendatang, epidemi berbagai penyakit menular akan meningkat di sekitar lokasi kejadian, dan di kalangan mereka yang terpapar radiasi nuklir.

Tragisnya, terapi kimia normal tidak efektif (mempan-red) pada penderita kanker akibat radiasi Chernobyl. Menurut Dr Andrei Butenko dari rumah sakit nomor satu di Kiev, dipastikan kanker gondok ganas yang menimpa anak-anak Ukraina akibat kontaminasi isotop iodium-131, isotop iodium yang radioaktif. Imbasnya, dengan terapi kimia di atas normal, kepala para pasien membotak dan wajah mereka bengkak-bengkak.

Horor yang kurang lebih sama dialami anak-anak Yunani. Anak-anak di negara tersebut berisiko terkena kanker dua hingga tiga kali akibat Chernobyl. Bahkan, anak-anak Yunani yang terpapar radioaktif ketika masih dalam kandungan ibunya berisiko menderita leukimia 2,6 kali lipat dibanding anak-anak lainnya. Hal ini karena adanya mutasi gen yang diberi nama 11q23.
Mutasi gen merupakan imbas lain dari kejamnya radiasi Chernobyl. Mutasi gen 11q23 ini merupakan salah satu contoh nyata yang berhubungan dengan leukimia pada bayi. "Temuan ini merupakan bukti langsung pertama, bahwa radiasi ternyata menimbulkan mutasi pada anak manusia," ulas Sir Alec Jeffreys, ahli genetika dari Universitas Leicester.
Sir Alec melakukan penelitian pada 79 keluarga yang tinggal di Mogilev, Belarus, kawasan yang terkena radiasi tinggi, kurang lebih 300 kilometer dari Chernobyl. Ia meneliti anak-anak di keluarga tersebut yang lahir antara Februari-September 1994. Sebagai perbandingan, ia juga meneliti 105 anak-anak yang tidak terkena radiasi dari Inggris.
Hasilnya, anak-anak Mogilev terbukti mengalami mutasi gen dua kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak di Inggris. Mutasi tersebut jelas diturunkan oleh orang tua mereka, dan secara permanen terkode pada gen anak-anak mereka. Artinya, mutasi tersebut juga akan diturunkan pada generasi-generasi selanjutnya.
Menurut Sir Alec, mutasi pada keluarga di Mogilev berhubungan dengan tingkatan kontaminasi permukaan oleh caesium 137, sebuah isotop radioaktif. Bahkan ahli genetika dari Akademi Sains Rusia Yuri Dubrova menyatakan, kelompoknya melihat lokasi genetik tertentu yang dikenal dengan nama minisatellites yang mengalami laju mutasi 1000 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gen lainnya.
Sementara itu, Robert Baker dari Universitas Teknologi Texas meneliti dua kelompok tikus, yaitu kelompok yang tinggal satu kilometer dari reaktor, dan yang hidup 32 kilometer dari reaktor. Yang diteliti adalah mitokondria DNA (bagian sel yang diturunkan induk betina) pada anak tikus-tikus.
Hasilnya, walau tikus yang hidup dekat reaktor terlihat sehat dan subur, tapi mereka mengalami laju mutasi ratusan kali lebih tinggi dari kondisi normal. "Artinya, lingkungan yang tercemar akibat ledakan Chernobyl memberikan dampak nyata perubahan gen pada mahluk hidup sekitarnya," ulas Robert Baker.
Nada miris terdengar dari mulut peneliti Universitas Texas Austin David Hillis. "Kita sekarang tahu, dampak mutasi akibat kecelakaan nuklir mungkin lebih besar daripada yang diharapkan," komentar Hillis.
Dalam ranah militer, kimia seolah menjadi landasan untuk menciptakan senjata yang paling menakutkan, efisien dan berdaya guna yang hebat, sekali blaar sasaran langsung klepek, tak berkutik alias mati. kemengangan telah dicapai. Masih ingatkah tentang dahsyatnya bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki? Sebuah bom atom yang telah memporakporandakan segala yang ada, entah manusia, gedung atau yang lain, semunya hancur oleh dahsyatnya bom atom. Sebuah bom yang lahir dari gagasan mengenai teori fisi sebuah atom: sebuah atom bisa dipecah menjadi beberapa atom yang lain dengan menembakan sinar tertentu terhadap unsur kimia tertentu, biasanya Uranium, yang akhirnya tercipta unsur-unsur baru dengan melepaskan energi yang sangat spektakuler serta sinar radiasi yang mematikan. Perlu diketahui dampak bom atom ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan jam saja akan tetapi bisa mencapi beberapa bulan bahkan tahun. Mungkin daya ledak hanya tercipta bersamaan dengan jatuhnya bom, akan tetapi sinar-sinar radioaktifnya bisa bertahan sampai waktu yang sangat panjang. Inilah gambaran kemajuan bidang kimia yang disalah gunakan. Kita pernah mendengar dan melihat pertikaian di timur tengah antara Israel dan Palestina .
Bom Fosfor, Letusannya Indah Namun Dampaknya Sangat Mematikan
Bom Fosfor atau nama kerennya sering di sebut WP (White Phosphorus) atau lebih keren lagi disebut Willy Pete. Tujuan utama penggunaan WP ini adalah sebagai tanda bagi pasukan dimalam hari dan untuk tujuan pembakaran atau bom.

Penggunaannya memang boleh didalam perang tetapi menjadi terlarang jika digunakan di kawasan penduduk atau daerah yang banyak penduduk sipil.
Penggunaan WP sudah dilakukan sejak Perang Dunia I. WP yang banyak digunakan dalam militer adalah pyrophoric material yang bersifat mudah terbakar secara spontan, dan sangat aktif mudah bereaksi dengan oksigen.












Saat bersentuhan dengan udara terbuka WP akan menyala dan beroksidasi menjadi phosphorus pentoxide. Panas yang dihasilkan akibat reaksi ini meledak menjadi nyala api kuning dan penghasilkan asap putih yang tebal.

Fosfor merupakan sebuah unsur yang berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “phosphoros “. Ditemukan pada tahun 1669, ada dalam bentuk allotropic berwarna putih (atau kuning), merah, dan hitam (atau violet). Biasanya fosfor dijumpai dalam bentuk lilin putih yang padat, dalam bentuk aslinya fosfor tidak berwarna dan transparant.








Fosfor tidak pernah ditemukan secara bebas di alam. Fosfor biasanya terkandung dengan kombinasi mineral. Sumber dari WP ini adalah batu fosfor yang banyak ditemukan di Rusia, Maroko, Florida, Utah, Idaho, Tennessee.
Akibat yang Ditimbulkannya
WP jika mengenai manusia menyebakan luka bakar yang dalam dan menyakitkan, luka bakar yang dihasilkan bisa sampai menembus tulang.
Ciri-ciri luka bakar yang dihasilkan tampak pada bagian necrotic dengan warna kekuning-kuningan dan bau seperti bawang putih. Banyak yang meyakini bahwa luka bakar akibat WP ini memakan waktu lama untuk disembuhkan.
Sifatnya yang terbakar karena bersentuhan dengan udara terbuka, membuat terbakarnya kulit menjadi lama karena selama WP masih kontak dengan udara dia akan terus terbakar sampai materialnya benar-benar habis terbakar.


Beberapa Fakta tentang Bom Fosfor / WP :










• Fosfor putih bisa mengakibatkan kepulan asap kimia yang dapat membakar kulit hingga ke tulang.
• Bahan kimia ini bereaksi cepat ketika terpapar oksigen dengan memercik dalam api jingga tua.
• Dalam perang, materi ini sering digunakan sebagai kepulan asap penghalau pandangan, namun dapat juga digunakan sebagai pembakar yang mengakibatkan luka fatal.
• Luka bakar akibat fosfor selalu pada stadium dua atau tiga karena partikel tersebut tetap tidak berhenti terbakar dan menyala meski telah kontak dengan kulit, hingga benar-benar habis. Itu kadang tidak disadari hingga akhirnya luka telah mencapai tulang.
Akibat negatif tersebut menyebabkan manusia memandang terhadap kimia bagaikan sesuatu yang sangan menakutkan sehingga perlu dijauhi. Muncullah ketakutan terhadap yang namanya kimia. Gejala kimiaphobia itu sekarang bisa dilihat ditengah masyarakat: “Hindari makanan yang mengandung bahan kimia”, “gunakan pupuk organik hindari penggunana pupuk kimia karena berbahaya”, “obat ini bebas dari bahan kimia karena terbuat dari bahan-bahan herbal”. Masih banyak lagi seruan-seruan yang mengajak masyarakat untuk mewaspadai bahan-bahan dari kimia.
Himbauan semacam itu wajar-wajar saja dan perlu. Wajar sebab selama ini telah terjadi pemahaman yang parsial terhadap kimia itu sendiri. Bahan kimia dipahami hanya sebatas bahan yang dihasilkan dari sintesis dilaboratorium-laboratorium dan tempat ini terkesan ruang yang angker dan hanya bisa menghasilkan bahan-bahan racun. Selain itu para laborannya pun terkesan menarik diri dari dunia sosialnya tanpa mau mensosialisasikan tentang pekerjaannya, temuannya dan hal-hal yang lain. Para laboran seolah-olah angkuh terhadap dunia lain, dunia laboratorium dianggap istana dewa yang tak boleh di jamah oleh siapa pun. Mereka hanya berkutat dengan masalah senyawa-senyawa baru dan hanya berkepentingan menyenangkan segelintir manusia (baca : para tengkulak keuntungan).
Hal inilah yang menciptakan gambaran dalam benak masyarakat mengenai kimia, sesuatu yang menakutkan karena bahan kimia tak lain hanya racun belaka. Kalau kita mau berpikir dengan tenang dan arif serta dilandasi dengan pemahaman yang telah kita peroleh, mengenai ilmu kimia, kita akan mengakui bahwa kehidupan kita tak bisa lepas dari yang namanya kimia. Mulai kita bangun sampai hendak tidur lagi, kita tak bisa lepas dari kimia. Bahkan dalam ketidaksadaran kita pun sebetulnya aktifitas kimia ini tak biasa lepas. Menghirup udara adalah aktfitas kimia karena udara yang kita hirup ternyata terdiri dari berbagai macam unsur maupun senyawa kimia tertentu dan tak lain yang dibutuhkan dalam tubuh kita dalam proses respirasi tersebut hanyalah unsur oksigennya saja dan oksigen mengenai karekteristiknya dibahas dalam ilmu kimia. Maka tak heran jika ada yang mengatakan “bahwa hidup ini adalah kimia tak ada kehidupan tanpa kimia”.
Jika memang keberadaan kimia masih dianggap momok, tidak apa-apa. Berarti ada tugas yang harus diselesaikan untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai kimia. Mengubah paradigma mansyarakat haruslah dimulai dengan membongkar bangunan-bangunan kimia yang sekarang ini berdiri. Ini berarti kita harus kembali memberikan landasan-landasan baru terhadap ilmu kimia. Kalaupun tidak bisa membangun landasan, kita bisa mempertanyakan untuk apa kimia ini sebenarnya? Apakah kalau ilmu kimia ini tidak ada bisakah kita hidup? Atau kalau kita enggan dengan itu semua jalan terakhir adalah bagaimana kita menggunakan ilmu kimia tersebut agar bisa memberikan pemahaman bahwa kimia itu juga seperti ilmu-ilmu yang lain, bertujuan menyejahterakan masyarakat. Semua ini kita harus kembali ke wilayah epistemologi, ontologi serta aksiologi ilmu kimia itu sendiri. Ketiga komponen filsafat inilah yang harus dipahami dan diselami agar bisa melahirkan ilmu kimia yang tidak menakutkan.
Sejarah kelahiran ilmu kimia tak lepas dari sebuah spekulatif manusia yang mempunyai keinginan untuk bisa merubah batu menjadi emas. Mungkin ini adalah gagasan yang terlalu imajinatif dan konyol, mengapa? Karena kita tahu bahwa sebongkah batu tentunya memiliki wujud yang berbeda sekali dengan emas dan kalau pun bisa itu hanya sekedar sihir semata artinya emas yang terbentuk hanyalah emas sihir tidak emas asli.
Rasa penasaran dan “ngoyo” (terlalu bernafsu) inilah yang melahirkan eksperimen-eksperimen untuk mewujudkan keinginan tersebut. Meskipun cita-cita tersebut sampai sekarang belum bisa terwujud akan tetapi dewasa ini telah terwujud intan yang berasal dari arang. Sebuah temuan yang menakjubkan. Selain itu disintesisnya unsur-unsur baru dari unsur-unsur yang telah disediakan oleh alam merupakan bukti bahwa rasa spekulatif, yang terkesan mustahil ini bisa diwujudkan.
Jabir ibnu Hayyan (721-815) adalah orang yang mempunyai cita-cita bahwa batu bisa berubah menjadi emas. Kemungkinan besar pemikirannya telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani khususnya pemikiran Arisroteles mengenai benda/ wujud. Aristoteles menyatakan bahwa segala benda yang ada di bumi ini terbuat dari sesuatu, yaitu bahan pokok, yang berlaku sebagai bahan mentah. Benda ini kita namakan zat benda (matter). Setiap sesuatu, tanpa kecuali dapat dikatakan tersusun atau terbuat dari zat.
Akan tetapi kita, lanjut Aristoteles, dapat melihat hal lain lagi, yaitu semua barang-barang dan benda itu dapat dibedakan satu sama lain. Jadi zat benda dari mana benda dan barang itu terbuat, tersusun dalam bermacam-macam cara, yang satu mengambil bentuk batu, yang lain lagi dalam bentuk rumput, bentuk pohon kayu, manusia, binatang dan dalam bentuk bulan, matahari dan bintang-bintang. Selain itu, masing-masing setiap barang dan benda yang sejenis pun mempunyai perbedaan yang satu dari yang lain. Perbedaan-perbedaan ini tejadi disebabkan oleh karena bentuk atau disain yang merupakan bahan dasar utama, yaitu zat benda mengambil bentuk dalam setiap benda itu. Dan bentuk yang demikian itu kita namakan bentuk utama (principle form)
Adanya keyakinan bahwa semua yang berwujud dengan berbagai macam jenisnya di dunia ini adalah berasal dari satu wujud tunggal yang akhirnya bertransformasi menjadi bentuk lain menjadi dasar bahwa batu emas. Batu dan emas diyakini berasal dari bahan yang sama yang kemudian dari yang satu ini ada yang mengambil bentuk emas dan yang lain menjadi batu. Sehigga , kemungkinan besar, batu yang setidaknya mempunyai bahan dasar yang sama dengan emas bisa dirubah, ditransformasi, ke bentuk emas dengan perlakuan khusus. Pemikiran ini setidaknya hampir sama dengan konsep kesatuan wujud, wihdatul wujud, bahwa manusia adalah ruh-ruh tuhan yang dihembuskan ke dalam daging-daging seperti yang dilihat sekarang ini. Dan kelak ruh-ruh ini akan kembali ke Tuhan, menyatu dengan ruh ketuhanan.
Perbedaan antara Jabir ibnu Hayyan dengan filsafat yunani, seperti yang dikatakan oleh Sir James Jeans dalam bukunya the growth of physical science, bawa filsafat yunani lebih memabukkan diri dengan berspekulasi, sehingga mereka tidak membawa kemajuan berarti dibidang ilmu pengetahuan. Lebih lanjut ia mengatakan “ fisika telah membebaskan diri dari suasana spekulatif yang melingkunginya ketika berada ditangan bangsa yunani, dan telah berubah dari sifatnya yang spekulatif-kontemplatif menjadi empirical-aksperimental. Jabir ibnu Hayyan telah meletakkan sendi-sendi dasar metode empiris dalam suatu rangkaian: observasi-pengukuran-penalaran.

Dari sejarah lahirnya ilmu kimia ini bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu kimia lahir karena adanya keinginan untuk merubah satu wujud ke wujud yang lain karena adanya keyakinan bahwa segala wujud yang beraneka ragam ini berasal dari satu wujud yaitu wujud utama. Hakekat ilmu kimia adalah bahwa benda itu bisa mengalami perubahan bentuk, maupun susunan partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi deformasi, perubahan letak susunan, ini mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda dengan wujud yang semula.
Pertanyaan yang penting adalah stelah kita mengetahui bahwa wujud itu bisa berubah dari bentuk satu ke wujud yang lain, lalu apa gunanya dengan hal tersebut? Apakah itu akan mendatangkan manfaat ataukah hanya sebuah kesia-siaan saja?

Wilayah aksiologis ini menjadi penting untuk dikaji bagi ilmuwan kimia. Kalau senyawa A kita temukan selanjutnya mau diapakan dengan kebaradaan senyawa A tersebut? Timbulnya momok terhadap yang berbau kimia sebetulnya karena kita terlalu acuh tak acuh dengan wilayah aksiologis kimia itu tersendiri. Seolah-olah tugas kita telah selesai di tataran epistemoloiy, ontology saja padahal wilayah aksiologilah yang menentukan apakah ilmu kimia ini bermafaat atau tidak.
Ilmu kimia tak bisa lepas dari nilai,begitu juga dengan ilmu-ilmu yang lain. Semua tak biasa lepas dari nilai. Apa yang kita temukan, diciptakan pasti mempunyai tujuan tersendiri. Misalnya, pisau dibuat dengan tujuan utama adalah untuk memotong, makanya pisau dibuat dengan bentuk yang pipih dan tajam pada sisinya dengan maksud untuk bisa memotong. “bisa memotong” inlah yang penulis sebut nilai. Tetapi jika ternyata dalam realita ada orang yang menggunakan untuk memotong leher orang itu berarti telah terjadi distorsi kegunaan pisau itu sendiri. Ini berarti sudah masuk dalam wilayah pengguna (orangnya), tidak lagi dalam wilayah pisau, dengan demikian nurani manusialah yang harus dipertanyakan, sehat apa tidak.

Begitu juga dengan ilmu kimia. Peluruhan atom telah diketahui oleh ilmuwan, bahwa dalam proses peluruhan atau fisi sebuah unsur akan disertai pelepasan energy beberapa electron volt (eV) yang tentunya bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu. Bisa untuk kebaikan, pambangkit listrik tenaga nuklir misalnya, bisa juga dibuat untuk memusnahkan makhluk lain layaknya bom atom yang dijatuhkan di Jepang.
Jadi wilayah aksiologi ini kelak berhungan dengan hati nurani manusia dan agama yang berbicara. Akan tetapi, jika kita mengacu pada proses timbulnya ilmu kimia bahwa bermacam-macam wujud yang ada ini pada dasarnya berasal dari wujud tunggal, dalam Islam adalah bahwa segala yang ada itu berasal dari wujud Allah, sudah selayaknya jika kehadiran ilmu kimia ini di tarik lagi ke wujud tunggal tersebut yaitu digunakan untuk menyenagkan sesama makhluk Tuhan bukan membuat ketakutan. Dan ini adalah tugas manusia untuk menyadari dan memperlakukan ilmu kimia sebagaimana mestinya.
Filsafat sebagai pisau bedah tak lain hanyalah sebatas untuk mengorek isi yang terkandung dalam wilayah kimia serta mencari gejala-gejala ilmiah yang ada di alam semesta ini yang akhirnya dimasukkan ke wilayah ilmu kimia. Tanpa filsafat yang mengorek mengenai sesuatu yang tersembunyi di tubuh alam semesta ini maka perkembangan ilmu, khususnya kimia, hanya akan mengalami stagnansi, kemandekan. Jika ini terjadi berarti lonceng kematian bagi peradaban
III. KESIMPULAN
Perkembangan dari filsafat adalah ilmu. Dimana ilmu merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah yang ada di dalam kehidupan. Ilmu selalu berkembang sejalan dengan pola pikir manusia yang terus berkembang. Sifat alami manusia yang tak puas dengan keadaan yang ada dan merasa ingin medapatkan lebih, mendorong untuk berfkir mencari pemecahan yang lebih menuntungkan.
Sebenarnya jika kita benar – benar belajar ilmu kimia maka kita akan memahami benar kekuasaan ALLAH SWT yang telah menciptakan alam semesta dengan sempurna. Karena dengan mempelajarinya kita akan tahu betapa rumitnya penciptaannya hal itu tidak lah mungkin terjadi dengan sendirinya pasti ada yang membuat dan mengaturnya yaitu ALLAH. Hal ini dapat dilihat bahwa electron electron yang berterbangan di sekeliling kita tidak akan berhenti sampai hari kiamat nanti. Yang jadi pertanyaan apakah elektro electron itu tidakmembutuhkan energy untuk bergerak??? Pasti membutuhkan maka dari itu ALLAH SWT menciptakan matahari untuk menyuplai energy jadi semua yang ada di alam semesta ini saling berkaitan jika ada salah satu yang tidak sesuai dengan fungsinya maka akan rusaklah dunia seisinya ini.
Agama akan selalu ada dan berkembang saat manusia masih mengkaji alam ini. Ditopang dengan filsafat sebagai cara pandang hidup dan ilmu sebagai metode pencari kebenaran, maka agama akan selalu berkembang. Agama sebagai wujud keimanan yang tidak sekedar rutinitas ritual belaka. Tetapi lebih dari itu, agama sebagai bentuk rasa syukur atas penciptaan alam semesta untuk manusia selalu mengkajinya. Secara logika, dengan filsafat dan ilmu maka seharusnya manusia semakin sadar akan kekuasaan yang Maha Dahsyat yang telah mengatur alam ini secara detail dan rapi.
Akhirnya perlu kearifan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Sebagaimana kearifan Allah SAW telah menciptakan manusia dengan bekal akal yang diberikanNya. Suatu ketika Rasulullah sedang berjalan bersama para sahabat beliau. Sampai beliau disebuah kebun korma. Ada seorang petani yang sedang melakukan penyerbukan terhadap korma dikebunnya. Kemudian Rosulullah bertanya. “Apa yang sedang kamu lakukan”. Orang tersebut menjawab bahwa dia sedang melakukan penyerbukan korma. Kemudian beliau berkata “alangkah baiknya jika engkau tidak melakukan itu”. Maka pada masa panen berikutnya produksi korma menurun. Rosulullah bertanya mengapa produksi korma menurun. Para sahabat menjawab bahwa petani tidak melakukan penyerbukan korma karena Rosulullah pernah menegur diantara mereka. Kata Rosulullah kemudian “Kamu lebih tahu tentang duniamu”.
Dari bahasan dan riwayat diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan (kimia) memang diberikan Allah pada manusia untuk menghadapi dunianya. Manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk menggunakan ilmu pengetahuannya (kimia). Tetapi teguran Rosulullah untuk tidak menyerbukkan korma merupakan nasihat agar manusia berhati hati dan harus bersikap bijaksana dalam melakukan rekayasa terhadap alam sekitarnya. Kalau perlu dengan selalu meminta ampun dan syukur kepada Allah karena telah memanfaatkan keringanan yang diberikan olehNya.


DAFTAR RUJUKAN
Anna Poedjiadi. 1987. Sejarah Dan Filsafat Sains. Bandung. Yayasan Cendrawasih.
Bernal.J.D. 1981.The Natural Sciences In Our Time. Vol : 3. Massachusets. The MIT Press Cambridge.
Nasution, Harun. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, UI Press, Jakarta, 1987.
Bruton, J.G. 1966. The Story of Western Science. New York Cambridge. University Press.
Dampier,W.C. 1984. A History of Science. 4 th .ed. Cambridge. University Press.
Feinberg, Gerald. 1990. Partikel Elementer. Ilmu pengetahuan Populer Vol.5. Jakarta. PT Widya Dara. Hal 116-125.
Hodeson, Lilian. 1990. Teori Kuantum. Ilmu Pengetahuan Populer Vol.5. Jakarta. PT. Widya Dara. Hal. 136-148.
Keenan, Charles W. et all. 1980. General College Chemistry. Sixth Ed. NY. Harper & Row Publishers, Inc.
Kuhn, Thomas.S. 1993. Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains. Ed. Kedua. (terj. Tjun Surjaman). Bandung. PT. Remaja Rosda Karya.
Mason, Stephen F. 1962. A History of The Sciences. New Revised Ediion. Abelard-Schuman Ltd.
Mc Avoy, J.P dan Zarate Oscar. 1996. Mengenal Teori Kuantum Untuk Pemula. (Terj. Ahmad Baiquni). Jakarta.
Musthafa,KS. 1980. Alam Semesta Dan Kehancurannya Menurut Al-Qur’an Dan Ilmu Pengetahuan. Bandung. Al-Ma’arif.
Petrucci, Ralph. H.1985. General Chemistry. Principles And Modern Applications. Fourth Ed. NY. Collier Nac millan.Inc.
http://anwarpamungkas.wordpress.com
http://sain.net.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar